Brazil Jangan Merasa di Atas Angin

    0
    288

    JAKARTA-(TribunOlahraga.com)
    Brasil tidak bisa melenggang begitu saja di Grup A meski bertanding di hadapan publik sendiri. Tiga negara yakni Kroasia, Meksiko, dan Kamerun sudah menanti kemudian siap memberi perlawanan kepada tim tuan rumah.

    Kubah duel Piala Dunia 2014 bakal gunjang-ganjing ketika Brasil menghadapi Meksiko pada 17 Juni. Kedua negara punya gengsi sebagai tim yang jauh dari predikat sebagai tim semenjana.

    Kedua tim telah malang melintang di berbagai turnamen berkelas dunia. Sebut saja, Piala Konfederasi, Olimpiade, kejuaraan dunia FIFA. Brasil menggambit memori manis ketika mengalahkan Meksiko 2-0 dalam Piala Konfederasi 2013, sementara pasukan Meksiko mengalahkan pasukan Samba dalam final perebutan medali emas Olimpiade 2012 di London.

    Laga antara Meksiko melawan Kroasia dihelat di Arena Pernambuco. Pertandingan itu menguak benang-benang sejarah. Skuad “El Tri”, julukan bagi Meksiko, mengalahkan tim asal Eropa itu di ajang Piala Dunia 2002 di Niigata Stadium di Jepang. CuauhtĂ©moc Blanco mencetak gol dari titik penalti yang memberi kemenangan bagi skuad Aztecs.

    Kegagalan mendewasakan penampilan Brasil. Kegagalan bukan sekedar kenangan, melainkan bagian dari perjalanan waktu mereka yang menghuni buana sepak bola.

    Dua kali Piala Dunia terakhir seakan mencambuk Brasil agar perjalanan waktu mengingatkan setiap insan akan kredo klasik bahwa jangan selalu mencari nikmat. Nikmat tidak selalu membawa bahagia.

    Yang diperlukan skuad Brasil, memotong segala bentuk hasrat nikmat. Apakah kemenangan masuk dalam hasrat nikmat?

    Skuad asuhan Scolari perlu menerapkan segala bentuk latihan kerohanian, menjauhi hal-hal yang semata nyerempet-nyerempet mencari nikmat, karena menghidupi sepak bola bukan semata melihat ancaman, melainkan mencari untuk menemukan peluang.

    Penampilan “Selecao” senantiasa dinanti oleh mereka yang merindu kepada sepak bola “indah”, meski mantan pelatih timnas Brasil, Dunga pernah berujar, buat apa bermain indah bila tidak memperoleh kemenangan dengan mencetak gol sebanyak mungkin ke gawang lawan.

    Barisan Brasil bisa “hepi-hepi” saja karena mereka mendapat dukungan penuh suporter tuan rumah. Dan mereka berkubang dengan nikmat sorak-sorai yang kerapkali justru melenakan dan meninabobokan semangat bertempur. Brasil bukan lagi berjuluk Selecao, melainkan skuad sarat nikmat.

    Brasil boleh mengembangkan dada. Mereka boleh berbangga karena memiliki stadion sarat legenda, Maracana. Nikmat menjadi kampiun boleh jadi melahirkan upaya sia-sia mencari kesenangan.

    Bukankah Brasil menyandang predikat sebagai tim yang pernah menjadi juara dunia lima kali (1958, 1962, 1970, 1994, 2002), dan meraih dua kali runner-up (1930 dan 1998)?

    Bagaimana cara agar Brasil terbebas dari kutuk mencari nikmat? Kegagalan memporakporandakan cinta akan sepak bola, karena sepak bola merasuk di sanubari negeri Samba.

    Sesudah bencana di Afrika Selatan, Brasil menendang sejumlah pemain lawas seperti Gilberto Silva, Elano, and Kléberson, kemudian menyuntikkan darah segar dengan memasukkan Neymar, Hulk, Marcelo, David Luiz, dan pemain lainnya. Yang remaja, yang empunya masa depan.

    Para talenta muda Brasil diwanti-wanti agar tidak terlena oleh mencari nikmat semata. Bukan itu saja, mereka perlu menjauhi lima jenis emosi yang negatif, yakni iri hati, takut, rasa sesal, kepahitan hidup, pencarian akan kenikmatan.

    Brasil perlu lebih melakukan praktek ugahari dengan rajin, menjauhi sebisa mungkin kenikmatan duniawi kemudian memalingkan diri kepada hikmat Ilahi.

    Barisan muda Brasil lambat laun tampil makin yahud. Kerjasama antar lini terjalin rapi, gol demi gol tercipta dari skema permainan sepak bola menyerang.

    Modal Neymar dan kawan-kawan, yakni mampu menyadari sepenuhnya bahwa gelora emosi bukan hal yang perlu diusir jauh-jauh. Emosi justru menjadi lonceng peringatan bagi pengendalian diri agar tidak selalu mengejar nikmat belaka.

    Kemenangan mengingatkan kembali kepada kekalahan. Kejayaan mengingatkan kembali kepada keruntuhan. Kemuliaan memutar balik jarum jam memori kepahitan.

    Skuad muda Brasil justru dalam incaran bahaya, meski mereka menjuarai Piala Konfederasi. Akankah rancak “Joga Bonito” beraksi kembali di bumi Brasil kali ini? Dan Spanyol siap memupus gembira negeri Samba.

    Scolari pelatih yang paham dengan makna dari nikmat berujung duka. Felipao ingin agar seluruh skuad muda asuhannya tahu membeda-bedakan dengan jernih antara hasrat mencari nikmat dengan hasrat mencari mulia.

    Filosof Yunani klasik, Platon berujar bahwa mencari nikmat berada di bagian perut manusia, tempat bersemayam dorongan nikmat makan minum, sampai dorongan seks dan uang.

    Akal budi yang ada di bagian kepala setiap manusia bertugas dan berfungsi mengendalikan upaya pencarian nikmat. Akal budi layaknya sais yang mengendalikan gerak langkah helaan kuda.

    Felipao bukan pelatih semenjana, melainkan pelatih yang mengandalkan akal budi untuk menggusur pencarian nikmat.

    Lihat dan saksikan sendiri, corak langgam permainan Brasil yang makin padu baik ketika bertahan maupun menyerang. Felipao dijuluki pelatih yang paham benar dengan gaya bernalar dan berlaku secara pragmatis di lapangan sepak bola. Buktinya, mereka kelaur sebagai juara Piala Dunia 2002.

    Brasil mengadopsi formasi 4-2-3-1 dengan mengandalkan gelandang Luiz Gustavo yang dapat bertindak sebagai bek tengah. David Luiz yang bertindak sebagai bek tengah bisa saja beralih fungsi sebagai penyerang dadakan.

    Scolari yang telah berusia 65 tahun itu memilih para pemain bertalenta kemudian menerapkan porsi latihan spartan. Ini juga berlaku bagi pemain bintang sekelas Neymar.

    Neymar, punya energi berlimpah, mampu melakukan dribel menawan, punya kecepatan. Perannya tidak bisa lepas dari skema yang diterapkan Scolari.

    Pemain berusia 21 tahun itu, yang bergabung ke Barcelona dengan bayaran sebesar 48,6 juta poundsterling itu justru menghidup-hidupkan harapan publik setempat. Ia telah mencetak 10 gol dalam 15 laga bersama timnas Brasil.

    Disesaki oleh pertimbangan akal budi, Scolari menyebut bahwa Bernard, pemain yang berusia 20 tahun itu, punya kecepatan dan energi optimal. Ia melakukan debut bagi Brasil pada September tahun lalu dan menjalakan gol perdananya bulan lalu ketika melawan Honduras. Shakhtar Donetsk membanderol dia dengan bayaran 21.5 juta poundsterling.

    Dan Scolari berucap, “Seratus persen…kami akan menjadi juara.” Ia menyulap Brasil sebagai tim yang suka mencari nikmat, sebagai tim yang terus berlatih keras dari hari ke hari.

    Brasil adalah seni gejolak hidup, Brasil adalah pesta, Brasil adalah seni hidup (the art of life).TOR-03

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Please enter your comment!
    Please enter your name here