Catatan sepakbola ( 1) SENYUM YANG TERSISA

0
9

 

Oleh: S U D A R S O N O  G U N A W A N Mantan wartawan olahraga senior

KALAU ada senyuman yang tersisa bagi penggemar sepak bola Korsel, itu adalah Shin Tae-Yong.

Lha, kok bisa ?

Dan, ini sebuah kontras dengan peristiwa di Bandara Inceon 2018. Saat itu massa menunggu kepulangan Shin Tae-yong dan timnas Korea, kemudian meluapkan kemarahan dengan cara melempar bantal dan telor busuk — yang untung tidak tepat sasaran. Ia dianggap gagal membawa Korsel lolos penyisihan grup Piala Dunia 2018, meski mampu membungkam raksasa tim Jerman Barat 2-0.

STY — panggilan akrab Shin Tae-Yong — pun kini bukan bagian timnas Korea. Ia bahkan justru mastermind Indonesia, tim yang mematahkan langkah Korsel di perempat final Piala Asia U-23 di Abdullah bin Khalifa Stadium, Doha, Jumat, 26 April 2024, sekaligus menghentikan tradisi lolos Olimpiade yang sudah 10 x berturut-turut.

Jadi bagaimana mungkin ia menjadi bagian senyum tersisa itu ?SEPAKBOLA Korsel, seperti Anda tahu, sedang berada di titik terendah kepercayaan rakyat Korsel.

Jurgen Klinsmann, legenda Jerman, sang arsitek, yang sebenarnya diplot untuk membawa Korsel ke Piala Dunia, terpaksa harus menelan pil pahit : Dipecat ! Itu terjadi sekitar dua bulan sebelumnya,setelah timnas Korsel juga gagal memenangkan Piala Asia, kalah 0-2 disemifinal melawan Jordania.

Dua kegagalan beruntun itu, membuat fans setempat menuntut sang ketua Chung Mong-gyu dan asosiasi sepakbola Korea (KFA) memberi jawaban yang sebenar-benarnya.

Chung Mong-gyu kemudian minta maaf. Ia menulis di situs resmi Asosiasi Sepak Bola Korea. “Saya sadar betul bahwa Asosiasi Sepak Bola Korea, yang membina dan mendukung tim sepak bola nasional, mempunyai tanggung jawab. Jadi saya sekali lagi menundukkan kepala dan meminta maaf.”

“Kedepannya, kami akan mengkaji secara cermat sistem pengembangan pemain dan pelatih, serta sistem manajemen timnas, mencari cara untuk memperbaikinya, dan mencegah terulangnya kegagalan lebih lanjut seperti saat ini, “ ia menegaskan.

Namun, bagi para fans Korea, tidak ada gunanya mengakhiri dengan permintaan maaf. “ Saatnya menemukan inti masalahnya, “ kata mereka.

Lalu di sinilah, posisi STY semakin jelas. Pertama, kekalahan atas Indonesia itu, membangkitkan kesadaran dan harapan kolektif para fans tentang perlunya reformasi sepakbola Korea. Dan, kedua, Shin Tae-Yong dianggap sebagai eksport terbaik bangsanya: Seorang Korea yang mampu membantu Indonesia; meninggikan harkat dan martabat bangsa lain melalui prestasi sepak bolanya.

Maka, STY bagi Korea, juga sebuah kemenangan.

Di Indonesia, STY kini adalah idola baru. Ia muncul dibanyak iklan produk Korea, yang menjadikannya brand ambassador. Di Korea, nitizen tak sekadar menyebutnya “ Guus Hiddink Indonesia”, tapi lelaki 52 tahun, yang lahir di sebuah tempat yang dikelilingi gunung dan pantai, Yeongdeok, menyeruak menjadi sosok yang terhormat.

SEKARANG STY sudah ada di setengah jalan membantu sepak bola Indonesia.Semifinalis Piala Asia U-23, jelas adalah sejarah baru.

Indonesia, tim dengan peringkat dunia 134, mampu mempecundangi Australia( 24), Jordania (71 ) dan Korea ( 23), tentu sesuatu yang amat berarti. Sesuatu yang menumbuhkan kepercayaan diri kita.

Saat kita lolos ke semifinal itu , kita berharap akhir cerita akan jauh lebih manis — setidaknya lolos olimpiade. Tiga kesempatan menggapai itu,memang digagalkan Uzbekistan, Irak, dan terakhir play off dengan Guinea, lewat pertarungan yang sengit.

Tapi buat saya — dan saya yakin sebagian besar kita– akan mencatat perjuangan anak-anak muda itu, yang tak kenal lelah, melebihi sekadar soal kalah-menang atau apa yang ditulis headline media. Mereka sudah meraih sesuatu yang selama ini selalu diidamkan para superstar di sepanjang hidupnya, yakni meraih kemenangan di hati bangsanya.

Di antero negeri, setiap kita seperti tak mau kehilangan momen timnas dan mengelar nobar yang riuh. Tiba-tiba saja kita menyatu, seperti menjadi lima jari tangan yang terlipat. Mengumpal. Kita semua seperti dibawa ke sebuah harapan bahwa kini memiliki timnas yang semakin dewasa dan mampu bermain dengan indah, yang sudah lama kita rindukan.

MEMAHAMI STY kini adalah memahami sosok, yang diharapkan akan membawa loncatan prestasi. Seperti memahami sebuah lomba lari: Jika ingin cepat berlari, kita harus memastikan selalu berlari di samping pelari cepat.– B e r s a m b u n g

(S U D A R S O N O G U N A W A N
Jakarta, 19 Mei 2024)

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here