Marciano Norman: Kita Harus Kerja Lebih Keras

    0
    1263

    JAKARTA-(TribunOlahraga.com)

    Kejuaraan Taekwondo Asia Yunior ke-7 sudah berakhir pada Minggu, (23/6). Sebagai tuan rumah Indonesia hanya mampu merebur 5 perunggu dalam kejuaraan yang berlangsung di Tennis Indoor Kompleks Gelora Bung Karno Senayan Jakarta itu.

    Marciano-NormanKetua Umum Persatuan Taekwondo Indonesia, Letjen TNI (purn) Marciano Norman pun secara jujur mengakui bahwa prestasi yang dicapai taekwondoin kita memang belum memuaskan.

    Sejatinya, kata Marciano, PBTI sejak awal mentargetkan medali emas dalam even yang melibatkan 21 negara dengan jumlah 400 peserta ini.

    Namun dari segi penyelenggaraan, Marciano mengacungkan jempol kepada segenap panitia yang telah menjadikan kejuaraan ini berjalan lancar, tertib dan mendapat apresiasi tinggi dari negara-negara peserta.

    “Saya kira apa yang dicapai taekwondoin kita di kejuaraan ini  tentu menjadi pelajaran sekaligus tantangan bagi kami, segenap pengurus PBTI untuk berbuat lebih keras lagi untuk meningkatkan kemampuan atlet-atlet junior kita. Apalagi target utama kami adalah Olimpiade 2016 di Rio Janeiro. Artinya, masih ada waktu sekitar tiga tahun untuk mengembangkan para atlet junior kita ini,” ujar Marciano usai menutup kejuaraan.

    Menurut Marciano, PBTI akan segera menggelar rapat untuk menentukan langka selanjutnya. Yang pasti, para atlet junior ini akan tetap dipertahankan, disamping terus menggali potensi-potensi atlet lain yang saat ini masih bisa bergabung di Pelatnas.

    “Tentunya atlet yang ada ini akan lebih banyak kita beri kesempatan mengikuti kejuaraan di luar negeri. Disamping itu mungkin kami juga akan menambah jumlah pelatih berkualitas, mungkin dari Korea Selatan atau negara lain,” papar Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) ini.

    =Korsel Juara Umum=

    Sementara itu Korea Selatan (Korsel) benar-benar menunjukkan sebagai ‘’leluhurnya’’ olahraga beladiri taekwondo. Negeri gingseng itu  tidak terbendung untuk meraih gelar juara umum di kejuaraan taekwondo yang disponsori BRI ini.

    Pada hari terakhir dari tujuh kelas kyorugi yang dipertandingkan, Korsel sukses merebut enam medali emas. Satu-satunya medali emas tersisa diraih Iran. Tambahan enam emas itu menjadikan Korea Selatan sebagai juara umum dengan raihan medali total 15 medali emas, 3 perak, dan 1 perunggu.

    Indonesia yang menampilkan tiga taekwondoin di hari terakhir, hanya mampu menambah perbendaharaan medali perunggu melalui taekwondoin Dinggo Ardian yang turun di kelas -63kg kyorugi putra. Di babak pertama, Dinggo menyingkirkan Aref Hagh Niaz (Iran) untuk berhadapan dengan Tabyldiyev Amantur (Kazakstan) di babak selanjutnya.

    Laga Dinggo dan Tabyldiyev berlangsung ketat dan seru. Pada babak pertama, Dinggo mampu unggul 6-3. Kemudian di babak kedua, justru Tabyldiyev yang unggul dengan skor 6-8. Beruntung Dinggo kemudian bangkit dengan dua kali menyerangkan tendangan kaki ke kepala dan dua ke badan. Saat Dinggo unggul 14-11, ofisial Kazakstan melemparkan handuk menandakan taekwondoinnya menyerah dan Dinggo melaju ke semifinal.

    Sayang di semifinal, Dinggo tidak berkutik di tangan Anas Alorani (Yordania) dan menyerah dengan skor 3-14 dan harus puas dengan medali perunggu bersama Lin Chia Hsing (Chinese Taipei). Anas Alorani sendiri juga gagal meraih emas, setelah di final dikalahkan Li Won Jang (Korsel). TOR-02

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Please enter your comment!
    Please enter your name here