Mengapa Medina dan Chelsie Gagal Raih WGM?

    0
    299

    (TRIBUNOLAHRAGA.COM) Mengapa WIM Medina Warda Aulia, dan WIM Chelesie Monica Sihite gagal meraih gelar WGM dalam turnamen catur internasional, Japfa Chess Festiva 2013 di Gedung Serbaguna GBK April 2013? Pertanyaan ini agak sulit dijawab, bila hal itu diajukan pada awal-awal turnamen itu berlangsung. Karena pada hari-hari pertama, baik Medina maupun Chelsie memperlihatkan perkembangan permainan yang cukup baik. Media berhasil meriah poin 1.5 dengan sekali remis,dan sekali menang di hari pertama. Chhelsie juga demikian, meski masih lebih baik Medina. Tetapi pertanyaan di atas dapat dijawab dengan muda, bila telah melihat hasil di hari ketiga dan keempat yang mana, kedua pecatur harapan Indonesia ini mulai nyaris meraih gelar, setelah menderita berbagai kekalahan. Pertanyaan utamanya kembali kita ajukan, mengapa Medina dan Chelsie bisa gagal meraih gelar WGB? Hasil wawancara dengan berbagai pihak yang berkepentingan di antaranya dengan Christianus Liem. Chris, demikian pengurus yang tahu persis perkembangan hari demi harinya untuk para pecatur muda ini, biasa dipanggil, mengatakan, Chelsie pantas menderita kalah, karena konsentrasinya terbagi antara ikut kejuaraan dan Ujian Nasional. Meski sesungguhnya sudah putuskan mengikuti ujian susulan, tetap secara psikologis, anak itu tetap memikirkan ujjian nasional, karena itulah hidup utamanya. Bagaimana mungkin ia tidak memikirkan ujian nasional yang pasti sangat menggangngu semua sisiwa. Yang ikut saja pening kepala, atau stress, bagaimana dia yang tidak ikut lalu ujian naionalnya menyusul? Pasti Chelsie tidak bisa konsentrasi untuk dua-duanya. Mungkin tidak konsentrasi untuk mengikuti turnamen catur yang bisa mengantarnya meraih gelar WIM, tetapi sebaliknya bisa juga membaut dia tidak bisa konsentrsi mempersiapan untuk ujian nasional susulan.
    “Saya yakin permasalahan Chelsie hanya itu, tidak konsentrasi penuh, karena pikirannya terbagi,” tutur Kristianus Liem. Bagaimana dengan Medina?
    Meskipun Chelsie gagal raih WGM karena konsentrasi yang terpecah, tidak berarti tidak ada kelebihan lain yang dimilikinya yang memampukan dia meraih poin cukup tinggi dalam turnamen kali ini. Kelebihan utama dari Chelsie ialah, dia bermain sangat tenang. Ketenganannya itu terbukti, dia bisa menang beberapa partai meskipun dia terdesak, dan bahkan tinggal beberapa langkah lagi untuk kalah, namun ketenangannya membuat keadaan bisa berbalik. Itu terjadi di babak kedelapan yang mana dia menyebutkan sebagai partai mujizat, karena kemenangan itu sudah penuh dengan doa katanya. Chelsie bahkan menangis usai kemenangannya, karena tidak menyangka partai itu bisa dia yang menang. Berbeda halnya dengan Medina. Medina, meskipun juga bermain tenang, namun, fisiknya agaknya kurang mendukung. Dia tidak bisa dipaksa bermain lebih dari dua babak dalam sehari khususnya untuk pertandingan-pertandingan sulit seperti pada Japfa Chess Festival ini. Karena itu untuk yang akan datang PB Percasi perlu memikirkan agar turnamen yang diikuti tidak boleh sampai Medina bermain hingga tiga babak dalam sehari. Medina akan bermain sangat save apabila dia hanya boleh turun sehari satu babak, a tau miksimal dua babak yaitu pagi dan sore atau malam hari. Mungkin inilah catatan penting untuk dua calon WGM belia dari Indonesia ini.

    Meskipun diakui banyak pihak bahwa peluang Medina Warda Aulia untuk me­raih norma Woman Grand Master (WGM) besar,akan tetapi semuanya sudah terkubur untuk kesempatan ini, dan keduanya harus menunggu giliran pada kesesmpatan yang lain lagi. Selamat berjuang.(01/TOR)

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Please enter your comment!
    Please enter your name here