Menpora Memang Harus Bertanggung Jawab

    0
    344

    OLEH: SUHARTO OLII
    Pada tanggal 17 Juli lalu, saya membuat tulisan singkat di TribunOlahraga.com hanya untuk menanggapi pernyataan Ketua Satlak PRIMA, Surya Darma yang begitu berani mematok target juara umum di SEA Games ke-27 Myanmar.

    Sebagai salah satu wartawan yang cukup lama meliput sekaligus mengikuti perkembangan olahraga di kawasan Senayan saya agak terkejut dengan pernyataan Surya Darma tersebut.

    Saya pun dengan ‘’berani’’ seakan tanpa beban, menyebut pernyataan Surya Darma itu mungkin mimpi. Selain tak realistis juga tak melihat kondisi yang ada.

    SEA Games ke-27 Myanmar, Minggu, (22/12) malam resmi ditutup. Dan kita pun sama-sama tahu bahwa kontingen Indonesia bukan saja gagal mempertahankan gelar juara umum, tetapi juga harus menerima kenyataan pahit, terpuruk ke posisi empat dalam klasemen perolehan medali dari 11 negara anggota ASEAN itu.

    Kontingen Indonesia hanya mampu merebut 65 emas, 84 perak, dan 109 perunggu. Hasil itu merupakan pencapaian terburuk kedua setelah di Filipina tahun 2005 yang menempati peringkat kelima.

    Saya pun sesungguhnya tidak terkejut melihat hasil buruk kontingen Merah Putih di SEA Games Myanmar ini karena sudah begitu yakin bahwa kita berat untuk menggapai gelar juara umum.

    Menyedihkan memang, tetapi itulah kanyataan yang tak bisa kita hindari. Kini kita patut bertanya siapa yang bertanggung jawab atas kegagalan menjadi juara umum di SEA Games Myanmar itu ?

    Pertanyaan ini patut diapungkan mengingat kontingen ‘’Merah Putih’’ tampil di pesta olahraga antarbangsa se-Asia Tenggara itu tentu mengatasnamakan negara dan 235 juta penduduk Indonesia. Itu artinya menggunakan uang rakyat.

    Menpora Roy Suryo yang juga begitu optimis Indonesia menjadi juara umum bahkan dengan target meraih 120 emas, tak bisa lepas tangan atas kegagalan di Myanmar ini.

    Roy Suryo memang sudah mengaku tidak akan lepas tangan dan secara tegas minta agar atlet jangan disalahkan. Roy Suryo pun siap dijadikan sasaran sekaligus siap bertanggung jawab.

    Pernyataan Roy Suryo siap mempertanggungjawabkan kegagalan ini patut kita hargai meski kita belum tahu seperti apakah bentuk pertanggungjawaban sang Menteri yang bermarkas di Gedung Graha Pemuda Senayan itu.

    Apakah Roy Suryo akan mengambil langkah tegas seperti dilakukan Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang menyatakan mundur sebagai Ketua Umum KONI Pusat atau Gatot Suwagyo, Komandan Kontingen Indonesaia sebagai bentuk pertanggungjawabannya atas kegagalan Indonesia mempertahankan gelar juara umum di SEA Games XIII/1985 di Bangkok, Thailand ?

    Lalu bagaimana dengan KONI, KOI dan PRIMA ? Meski selama ini terkesan KONI hampir tak pernah dilibatkan secara operasinal dalam pelaksanan pelatnas SEA Games, lembaga keolahragan tertinggi di Indonesia ini pun juga tak bisa lepas tangan .

    Begitu juga halnya KOI yang sebetulnya tugasnya lebih pada masalah administratif mengkoordinir pengiriman serta keberangkatan kontingen ke setiap multi even. Sudah bukan rahasia umum lagi, KONI dan KOI sejak dipisahkan oleh Undang Undang Sistim Keolahragaan Nasional (UU SKN) No.3 Tahun 2005, hubungannya kini tak harmonis lagi.

    Hubungan yang tak harmonis ini, diakui atau tidak, ikut menambah suasana tak kondunsif pembinaan olahraga di tanah air.

    Dalam penyambutan kedatangan kontingen Indonesia di Terminal II Bandara Intenasional Soekarno-Hatta, Minggu, (22/12) petang kemarin pun terkesan mendua. Ketua Umum KONI Pusat Tono Suratman menyambut duta-duta bangsa itu di lantai II sementara KOI yang diwakili Anthony Sunaryo menyambutnya di lantai dasar.

    Hasil buruk di SEA Games Myanmar harus menjadi cermin bagi semua pemangku kepentingan olahraga di negeri ini. Tahun depan (2014) kita akan menghadapi kegiatan olahraga multi even yang lebih tinggi yakni Asian Games di Incheon, Korsel.

    Persiapan menuju Asian Games XVII itu tentu harus dilakukan sejak awal dengan program yang lebih jelas dan terarah.

    Dengan jumlah cabang olahraga serta atlet yang tidak sebanyak SEA Games, semestinya persiapan untuk Asian Games Incheon ini lebih matang. Karena anggarannya lebih efisien sehingga kontrol dan pengendaliannya jauh lebih mudah.(****)

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Please enter your comment!
    Please enter your name here