PSSI Pers Gelar Workshop Media 2014

    0
    290

    JAKARTA-(TribunOlahraga.com)
    PSSI dan PT LIGA Indonesia akan tegas menghukum suporter klub ISL 2014 yang menyalakan petasan, kembang api, dan melempar barang ke dalam lapangan saat pertandingan berlangsung. Hal ini dikatakan oleh Sekjen PSSI dan CEO LIGA, Joko Driyono.

    “Penegakan disiplin dilakukan mulai dari level klub. Sebab, kejadian seperti ini akan berulang kembali di tim nasional, bila tidak diberikan tindakan tegas. Kami berkonsentrasi kepada tingkah laku buruk suporter. Kami akan menindak tegas bila ada bom asap dan kembang api. Kami meminta suporter bersikap tertib saat berada di dalam dan luar lapangan,” kata Joko, dalam acara Media Workshop Menyongsong Kompetisi ISL 2014 di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat (31/1).

    PT Liga Indonesia juga berupaya memerangi aksi rasisme yang ditujukan kepada elemen sepak bola, seperti wasit, pemain, dan ofisial tim, selama berlangsungnya ISL 2014.

    Sekretaris PT Liga Indonesia Tigor Shalomboboy juga menambahkan pihaknya bersama PSSI dan Komite Wasit, akan membahas apa saja kategori tindakan yang dapat dikatakan rasis.

    “Kami akan menentukan dan merumuskan apa kategori tindakan yang dapat dikatakan rasis,” tutur Tigor di saat bersamaan.

    Meskipun masih dalam tahap membahas kategori rasis dan menentukan hukuman apa yang akan diberikan, Tigor meminta wasit berani menghentikan laga bila melihat adanya tindakan rasis yang dilakukan suporter maupun elemen sepakbola, saat laga berlangsung.

    “Wasit bisa menghentikan laga bila terjadi tindak rasis di pertandingan. Wasit kemudian menyampaikan laporan kepada pengawas pertandingan. Nanti, disampaikan kepada PT Liga Indonesia. Bahan laporan yang telah diterima PT Liga Indonesia kemudian dibawa ke ranah Komisi Disiplin,”ungkap Tigor.

    Seperti diketahui di ISL 2012/2013, terjadi beberapa kali aksi rasis yang dilakukan oknum kepada elemen sepak bola.

    Jaka Mulyana, anggota Komite Wasit Divisi Pendidikan dan Pelatihan juga meminta PSSI menetapkan kriteria-kriteria yang dapat dikatakan sebagai rasisme.

    “Mengenai rasisme memang belum maksimal. Ini menjadi satu perkara yang lebih serius. Sepak bola itu universal, tanpa memandang agama, warna kulit, dan golongan. Pemahaman mengenai ini sudah lama, tapi tindakannya baru. Federasi harus menginventarisir hal-hal mana saja yang dapat dikatakan rasisme. Panduannya segera dirilis oleh federasi,” ucap Jaka.

    “Bila sudah ada panduan yang jelas, maka wasit berani mengatakan tidak ada kick-off,” imbuh Jaka.

    Tahun 2013, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) memberikan hukuman berupa denda dan larangan menggelar dua pertandingan kandang tanpa penonton, kepada PSSI. Hukuman diberikan karena penonton melakukan aksi menyalakan petasan, kembang api, dan melempar barang ke dalam lapangan saat pertandingan berlangsung.

    LIGA juga akan mendenda manajemen klub yang tidak menggelar konferensi pers, serta pelatih yang tidak menghadirinya.

    “Pelatih kepala dan pemain yang masuk dalam daftar susunan pemain dari masing-masing tim yang bertanding, wajib hadir dan berpartisipasi dalam pre/post match conference,” beber Local Media Officer PSSI dan PT Liga Indonesia Asep Saputra.

    “Konferensi pers setelah pertandingan wajib diselenggarakan di stadion, dan dimulai selambat-lambatnya 15 menit setelah pertandingan berakhir,” jelasnya.

    Asep menambahkan, manajemen klub dan pelatih yang melangar, akan diberikan peringatan. Bila mengulangi pelanggaran, PT Liga Indonesia akan memberikan sanksi berupa denda.

    “Kami memberikan peringatan. Kemudian, sanksi berupa denda bila tuan rumah tidak menggelar konferensi pers dan pelatih tidak ada. Sanksi denda sebesar Rp 10 juta,” ujarnya. TOR-02

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Please enter your comment!
    Please enter your name here