SEPAK BOLA DUNIA SUDAH MODEREN, INDONESIA MASIH PRIMITIF

0
30

 

Catatan Pemred Facebook, World Cup U-17 – Jilid 2

Hampir semua pertandingan Piala Dunia Remaja U-17, sempat ditonton mBah Coco. Khususnya, tiga pertandingan tim remaja Indonesia. Walaupun sebatas lewat televisi. Analisisnya, terkesan sepak bola Indonesia, ada kesenjangan yang sangat mencolok, dalam gaya, taktik, strategi serta skill individu, stamina rata-rata pemain asuhan Bima Sakti, yang tampil.

mBah Coco ingin coba melalangbuana sebentar. Dari empat negara yang lolos ke semi-final, kesan mBah Coco, mereka seolah-olah adalah tim kesebelasan senior. Mereka bermain sangat enjoy, dewasa dan menghibur banget, bro!

mBah Coco bingung! Mana tim Argentina yang juara World Cup 2022 bersama Lionel Messi? Mana Argentina junior yang diperkuat Claudio Echeverri?. Mereka, seolah-olah, tim Argentina A, dan Argentina B. Sama baiknya, sama enak ditonton, dan sama kualitas teamwork-nya sekaligus makyuss.

Dari sisi mental, kok sepertinya semua pemain yang memperkuat tim remaja Argentina, sangat luar biasa. Fisik prima, mental bertandingnya yahut. Gaya dan corak kerjasamanya sangat elok.

Sebaliknya, saat mengamati daya jelajah Jerman. mBah Coco, akhirnya membayangkan jaman dulu. Jika, ingin melihat Lotthar Matthaeus (kapten Jerman 1990) atau Michael Ballack (kapten Jerman 2006), Sami Khedira atau Juergen Klinnsmann, maka sudah terlihat katham, dalam sosok tiga titisan pemain Jerman, yang lolos ke final Turnamen Piala Dunia Remaja 2023.

Lihat saja, Paris Brunner (nomor punggung 7) mirip Matthaeus, David Odogu (punggung 14) mirip Khedira, dan Noah Darvich (nomor punggung 10) mirip Klinnsmann. Bahkan, Noah Darvich, satu-satunya pemain Jerman, yang sudah berkostum Barcelona (B).

Khusus, Paris Brunner di penyisihan zona Eropa menjelang memilih 5 negara yang lolos ke Indonesia (Inggris, Jerman, Spanyol, Perancis dan Polandia). Mampu meraih penghargaan sebagai pemain terbaik Eropa U-17. Gaya dan karakternya, sebagai gelandang penyerang, mirip banget dengan kombinasi Matthaeus + Ballack. Angker sekaligus flamboyan.

Anak remaja Jerman, juga menyisakan penampilan Fayssal Harchaoui, bernomor punggung 6. Versi mBah Coco, sudah nggak ada bedanya, mirip sebangun gaya penampilan Philipp Lahm, kapten Jerman, saat boyong gelar World Cup 2016. Overlapnya mirip Valentino Rossi.

Dari tim remaja Perancis, lebih dahsyat lagi.

Anehnya, nongol pemain berkarakter titisan Lilian Thuram. Bek kanan, yang doyan ujug-ujug masuk di tikungan akhir di depan gawang. Seperti yang diperagakan Yvann Titi. Pemain nomor punggung 2 ini, mampu mencetak gol penyeimbang 1 – 1, di saat Mali, barusan kehilangan Souleymane Sanogo, bek tengah bernomor punggung 4, akibat kartu merah.

Khusus, Ismail Bauneb. Ketika diberi kepercayaan sebagai penembak tendangan bebasnya. mBah Coco, jadi ingat Michael Platini dan Zinedine Zidane. Ketiganya, sama-sama memakai jersey bernomor 10. Punya, tendangan bebasnya maut banget.

Karakter tendangan bebas antara Platini, Zidane dan Bauneb, sangat persis banget. Seperti dicetak turun temurun. Yaitu, memiliki spesialis tendangan bebas, yang tidak keras. Tapi terukur dan jeli melihat celah yang terbuka dari benteng pertahanan lawan. Golnya enak dilihat, dan sulit dicontoh. Makjlebbb, sumpeh!

Yang lebih menggila dari pengamatan mBah Coco, Mali yang hanya bermain 10 pemain, terkesan seolah-olah tidak merasa kehilangan pemainnya. Karena sejak menit ke-55, Mali memiliki presentasi serangan 60%, dibanding Perancis hanya 40% penguasaan bolanya. Bahkan, punya dua peluang emas, untuk samakan kedudukan.

Bayangan mBah Coco, pemain remaja Mali, sepertinya semua pemainnya, adalah Seydau Keita, legenda Mali, yang pernah merumput di Marseille, Sevilla, Barcelona, Valencia dan AS Roma. Bahkan, semua pemain remaja Mali, ingin bercita-cita, seperti Frederic Kanoute, yang pernah merumput di Lyon, West Ham United, Tottenham Hotspurs dan Sevilla, yang akhirnya dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Afrika 2007.

Gaya dan karakter, skill individu serta mentalnya, tampil bergaya Mahamadou Diarra, mantan pemain Lyon, Real Madrid, Monaco dan Fulham. Mahamadou Diaara, di Mali adalah legenda sekaligus contoh inspiratif bagi anak-anak muda negara yang punya bendera berwarna “Rastaman” itu.

Kasta kedua, versi mBah Coco, setelah empat finalis. Nggak terlihat tim nasional Brasil, yang sudah menikmati empat (4) gelar juara dunia remaja, sejak event ini digelar berawal dari tahun 1985.

Bathin mBah Coco, kok sulit banget menemukan, titisan Pele, Jairzinho, Zico, Bebeto, Romario, Roberto Carlos, Ronaldo, Ronaldinho, hingga Neymar Jr. Mungkin para remaja Brasil sudah beralih hobi. Tidak ingin lagi menjadi pesepakbola pesohor, tapi ingin jadi youtuber….hehehehehe!

Padahal, Brasil, adalah salah satu dari dua negara, paling banyak meraih gelar juara dunia remaja, yaitu 1997, 1999, 2003, dan gelar juara yang terakhir tahun 2019. Yang menyamakan prestasi empat gelar lainnya, adalah Nigeria. Yaitu, 1985, 1993, 2013 dan 2015.

Terkesan jomplang, bro!

Jika ada penilaian mBah Coco, dari 24 peserta yang lolos ke putaran final Turnamen Piala Dunia Remaja U-17. Indonesia, berada diurutan ke-23, satu strip di atas Kaledonia Baru, salah satu kesebelasan remaja dari Kawasan Oceania. Sebagai negara yang membangun sepakbolanya masih sangat primitif.

mBah Coco, sering dianggap melecehkan tim sepak bola Indonesia. Sering dianggap nggak berguna, sebagai jurnalis sepak bola. Bahkan, juga dinilai sebagai wartawan abal-abal. Namun, mBah Coco asyik-asyik. Karena, menulis sepak bola itu, hobi, bukan pekerjaan apalagi penghasilan.

Coba terangkan, kepada mBah Coco, apa persamaan tim remaja Indonesia U-17, dengan tim menjelang dewasa U-23, apalagi dengan tim nasional senior.

Dimana letak persamaannya, dan dimana bedanya? Jika dikaitkan, dengan analisis tim Argentina senior dan Argentina U-17, hampir mirip, gaya dan cara bermainnya, seirama sebangun dan enak ditonton, dengan tim Argentina senior.

Jawabannya :

Persamaannya, sama-sama dibentuk dalam kondisi yang selalu tidak ideal. Kalau remaja U-17, bahkan dibentuk enam bulan lalu. Itu pun, masih dikurangi dua bulan seleksi. Praktis, hanya dua setengah bulan disiapkan. Karena, keputusan FIFA menunjuk Indonesia, sebagai tuan rumah, enam bulan lalu.

Dan nggak jelas, para pemain remaja Indonesia ini, direkrut hanya berdasarkan turnamen, ketimbang kompetisi. Maklum, sudah nggak ada kompetisi yang benar-benar kompetisi, dalam arti yang sebenarnya.

Tim nasional Indonesia senior, dibentuk dan dibangun, dalam kondisi wadah kompetisi Liga 1 Indonesia, compang-camping. Mental pemain senior dihantui tiap hari, siapa yang menang, karena diatur bandar? Siapa yang kalah diatur ofisial timnya sendiri? Dan, siapa yang akan degradasi dan juara pun, sudah ditentukan, sebelum kompetisi kick off?

Berbedaannya, kualitas pelatih junior Bima Sakti, dan pelatih menjelang dewasa Indra Sjafri, serta pelatih senior Shin Tae-yong. Mereka, bertiga, memiliki jam terbang, pengalaman dan serta wawasan yang berbeda-beda. Sehingga, terkesan jomplang banget. Tidak ada koordinasi keseragaman dalam membangun metode taktik strategi secara nasional.

Parahnya lagi. Dari tim junior, menjelang dewasa hingga senior, memiliki persamaan yang sama. Yaitu, mental bertandingnya super jeblok. Sulit, menghitung head to head dengan pemain luar negeri. Tidak ada ofisial di tim Indonesia, yang dicetak atau direkrut sebagai motivator, agar mental pemain, punya nyali dan berjiwa jawara.

Dalam hal teknik. Rata-rata pemain Indonesia, dari junior hingga senior, memiliki keasalahan mendasar, dalam hal passing, kontrol bola. Untuk melakoni strategi bertanding, rata-rata pemain Indonesia junior hingga senior, gagal memainkan sepak bola modern.

Yaitu, mampu memainkan bola dengan kepercayaan tinggi. Nyaris, kalau sudah bertanding, terlihat grubyak-grubyuk, entah mau dikirim bolanya ke mana? Jawabnya, intelegensinya pas-pasan, kalau nggak mau dikatakan “jongkok”.

Dan, puncaknya kalau sudah bertanding 90 menit, bisa dilihat databasenya, rata-rata penguasaan bola tim nasional remaja, menjelang dewasa dan senior, selalu jauh dibawah 50%. Artinya, dalam wadah kompetisi nasional, stamina setiap pemain, benar-benar tidak maksimal, dan gagal bisa stabil, bermain konsisten sepanjang 90 menit.

Ini menunjukkan, bahwa sistem yang dianut organisasi sepak bola Indonesia – PSSI, tidak memiliki panutan buku putih dari para petinggi PSSI, khususnya yang mewadahi Direktur Teknik PSSI.

Bijimane bisa berprestasi, atau minimal memiliki tim nasional yang enak ditonton, selalu menyerang, dan minimal hanya seri. Kalau gaya, taktik, mental, stamina, teknik individu danintelegensinya yang ada di skuad timnas, tidak mencerminkan sebagai pemain nasional?

Versi mBah Coco, Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, pasalnya tidak pernah menginjak bumi, sehingga terlihat saat menjadi orang nomor satu di PSSI, sekadar ada. Maklum, saat Kongres PSSI hanya bisa menggunakan “money politic” untuk mencapai posisi ketum PSSI.

Dampaknya, pasti semua hasil prestasi sepak bola nasional jeblok, ngelantur ngalor-ngidul, dan tetap primitif permanen. Bijimane? (bersambung).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here