SMP/SMA Ragunan

    0
    764

    Menjaga Keseimbangan Prestasi Akademik dan Olahraga
    Mendengar atau menyebut nama Ragunan, asumsi kita pasti bukan hanya taman satwa (kebun binatang). Karena di kawasan tersebut juga terdapat sekolah khusus olahragawan, SMP/SMA Ragunan.
    Sejak didirikan pada tahun 1977 tepatnya era Gubernur DKI Ali Sadikin, SMP/SMA Ragunan memang diproyeksikan untuk melahirkan atlet-atlet nasional yang kelak berprestasi dunia.
    Ide mendirikan sekolah ini muncul,  karena setiap tahun selalu saja timbul masalah atas atlet yang dibutuhkan.
    Tak jarang kita mendengar ada atlet terlantar sekolahnya akibat latihan dan pertandingan. Atau sebaliknya, ada prestasi olahraga atlet anjlok karena si atlet bersangkutan tak ada izin latihan dari sekolahnya..
    Dan di awal berdirinya sekolah khusus olahragawan Ragunan ini juga untuk menampung atlet pelajar dari cabang olahraga yang dipertandingkan dalam SEA Games saja diantaranya atletik, renang dan bulutangkis.
    Seiring dengan perkembangan, kini sekolah Ragunan sudah menampung 116 siswa SMP dan 359 siswa SMA. Jumlah cabang olahraganya pun bertambah menjadi 14 (atletik, bola basket, bola voli, bulutangkis, loncat indah, panahan, senam, sepakbola, tenis, tenis meja, gulat, taekwondo, renang dan sepak takraw.
    Namun sayangnya, sekolah Ragunan kini semakin ”sepi” melahirkan atlet-atlet berprestasi dunia seperti yang pernah terjadi pada era 1970-an hingga awal 1990-an.
    Padahal di era itu, puluhan atau mungkin sudah mencapai ratusan atlet berprestasi lahir dari Ragunan. Sebut saja, pebulutangkis Icuk Sugiarto (juara dunia), peraih medali emas olimpiade Alan Budikusumah, Susy Susanti (bulutangkis),  Tintus Ariyanto Wibowo, Suharyadi, Sulistiono, Wailan Walalangi, Yayuk Basuki (tenis).
    Menanggapi sepinya prestasi itu, Wakil Kepala Sekolah SMP/SMA Ragunan, Sutarmo mengatakan sesungguhnya pihaknya tetap berpedoman pada prinsip untuk mempertahankan keseimbangan prestasi akademik dan olahraga.
    ”Jadi kami selalu mempertahankan pedoman itu karena baik prestasi akademik maupun olahraga sama-sama penting,”katanya.
    Sutarmo kemudian mengkungkapkan di Ragunan pun diberlakukan sistim degradasi siswa yang prestasi olahraganya tidak berkembang. Dan untuk tahun ini saja sudah lebih dari 15 siswa yang degradasi.
    Sekolah khusus olahragawan seperti Ragunan itu sendiri di Indonesia ini sudah tersebar di beberapa daerah seperti Sidoardjo (Jatim), Samarinda (Kaltim), Pekanbaru (Riau), Aceh dan Palembang (Sumsel).(suharto olii)

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Please enter your comment!
    Please enter your name here