Supardi Saleh Wartawan Olahraga Senior Tutup Usia

    0
    360

    JAKARTA-(TribunOahraga.com)
    Wartawan olahraga senior Supardi Saleh meninggal dunia Selasa (18/2/2014) malam di Pekalongan, Jateng.
    Almarhum yang total mengabdikan karir jurnalistiknya untuk meliput kegiatan olahraga, berpulang saat meliput kejuaraan biliar setempat. Jenazah almarhum malam ini disemayamkan di RS Bendan, Pekalongan, sebelum dibawa ke Jakarta, Rabu (19/2/2014) pagi.
    Menurut rencana, jenazah Supardi Saleh akan disemayamkan lebih dulu di sekretariat Siwo PWI Jaya, Pintu VI, Gelora Bung Karno, Senayan. Saat ini rekan-rekan almarhum dari Siwo Jaya, Siwo Pusat, atau pengurus PWI Jaya dan PWI Pusat masih mencoba menghubungi pihak keluarga besarnya.
    Hingga saat kepergiannya yang mendadak, almarhum Supardi Saleh diketahui belum pernah berkeluarga.
    Almarhum Supardi Saleh menekuni liputan olahraga, terutama bulutangkis, yang turut mengantarkan namanya demikian mendunia.
    Almarhum hampir tak pernah absen meliput kejuaraan bulutangkis, baik ‘single-event’ atau ‘multi-event’. Tahun 1991, saat meliput Kejuaraan Dunia Bulutangkis di Kopenhagen, Denmark, Supardi Saleh yang berperawakan ‘mungil’ itu menjuarai tunggal putra dari kejuaraan khusus diantara media peliput.
    Almarhum sangat dikenal diantara para peliput bulutangkis dunia, atau umumnya dikalangan wartawan olahraga mancanegara.
    Jika almarhum tidak tampak diantara para juruwarta Indonesia, rekan-rekan peliput luar negeri akan mempertanyakan keberadaannya.
    “Ya mas Pardi sangat dikenal di kalangan wartawan olahraga di luar negeri. Mereka selalu menanyakan, ‘where your friend, Mr. Small Body? Tentu, mereka bercanda,” kenang Gunawan Tarigan, wartawan dari generasi jauh dibawahnya.
    Almarhum memang dikenal sangat supel, seperti tidak memberi jarak pada kalangan wartawan olahraga dari usia jauh dibawahnya. Sejak 1970, almarhum Supardi Saleh aktif meliput aktivitas jago-jago bulutangkis Tanah Air.
    Almarhum hampir tak pernah absen mengikuti sepak-terjang Rudy Hartono di All England.
    Pada 1972, almarhum meliput eksibisi bulutangkis di Lausanne, Swiss, agar bisa memperoleh akses ke Olimpiade Munchen.
    Almarhum meliput saat bulutangkis pertama kali dipertandingkan secara resmi di Olimpiade Barcelona, 1992, dengan keberhasilan ‘pengantin emas’ Alan Budi Kusuma dan Susi Susanti.
    Almarhum mengawali karir kewartawanannya dengan mengabdi di Harian Sinar
    Harapan.
    Ada sepenggal cerita saat almarhum meliput Asian Games 1986 di Seoul, Korsel.
    Dia asyik meliput, tetapi beritanya tak masuk-masuk. Di Jakarta, rekan kerjanya Rudy Parengkuan akhirnya ‘buka kartu’.
    “Sudahlah, gak usah kau kirim berita lagi, koran kita sudah dibreidel.” Selepas itu, almarhum melanjutkan pengabdiannya di ‘Suara Pembaruan’.
    Sempat pula berkarir di ‘Suara Bangsa’, walaupun pada 1999 tak terbit lagi.
    Suharto Olii, wartawan senior yang cukup dekat dengan almarhum, mengatakan, almarhum Supardi Saleh berulangkali menyatakan bahwa wartawan adalah profesi yang akan terus melekat seumur hidup.
    “Karena itu almarhum terus mencoba aktif,” terang Olii yang kini jadi Wakil Pemred media online TribunOlahraga.com ini.
    Almarhum, jelas Olii yang juga sempat 15 tahun menjadi wartawan olahraga di Harian Umum Bali Post itu, sempat mengelola majalah khusus biliar, dan menjadi humas wushu saat PB Wushu Indonesia (WI) disahkan sebagai cabor anggota KONI Pusat, 1990.TOR-02

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Please enter your comment!
    Please enter your name here