Kecuali Semarang & Manado, Tidak Ada Ibukota Provinsi di Semifinal Kejurnas Bridge Pelajar Online 2021

0
655

 

Laporan Bert Toar Polii (Jakarta)

Kenyataan cukup mengejutkan, kecuali Semarang tidak ada Ibukota Propinsi yang lolos ke babak semi final Kejurnas Bridge Onlinle untuk kategori SD/SMP dan SMA.

Pada kategori SD,  SD Purwekerto akan bertarung dengan SD Logandeng GK memainkan 3 segmen. SD Purwekerto yang peringkatnya lebih tinggi mendapat carry-0ver 6 imp.

Dimeja lain berhadapan SD Kanisius WNO2 GK dan SD Tasikmalaya dimana SD Tasikmalaya mendapat carry over 2 imp.

Hasil ini menunjukan ada kemajuan besar dalam pembinaan bridge terutama program Bridge Masuk Sekolah di Jawa Tengah. Sayang sekali Sulut dan Jatim yang selama ini banyak menghasilkan atlet bridge kelompok SD seperti melempem.

Tasikmalaya cukup konsisten memasalkan program Bridge Masuk Sekolah.

Di kategori SMP, SMP Negeri Kalawat Minut akan berhadapan dengan SMP Karimun setelah mengalahkan SMPN1 Kediri dan SMPN 12 Surabaya.

Di meja lain bertarung SMPN 1 Manado akan bertanding melawan SMP Neg 1 Wno GK A yang mengalahkan SMP Susteran Purwekerto dan SMP Neg 1 Wno GK B.

Di kategori SMA, SMAN1 Boja akan berhadapan dengan SMA Negeri 1 WNO GK yang masing-masing mengalahkan SMK Neg, 1 Tondano dan SMAN 10 Malang.

Di meja lain SMAN 3 Semarang akan bertarung melawan Kota Blitar setelah mengalahkan SMA Kabupaten Pasuruan dan SMAN1 Kediri.

Para pemenang partai semi final akan bertarung di babak final untuk mencari juara sedangkan yang kalah akan berebut peringkat 3.

Dari hasil diatas dominasi Jawa Timur sepertinya akan digeser oleh Jawa Tengah yang telah cukup menyebar di beberapa kota.

Salah satu yang sangat menonjol adalah prestasi yang diraih Gunung Kidul salah satu Kabupaten di DIY.

Mereka mampu meloloskan tim ke semi final di semua kategori bahkan di kategori SD ada dua tim.

Ternyata ada kisah menarik sehingga bridge bisa berkembang di Gunung Kidul. Ini tidak lepas dari peran Ketua Gabungan Bridge Gunung Kidul Stella Nova Natalia, MM.Pd.

Ia yang menggantikan peran mertuanya sebagai sesepuh bridge Gunung Kidul menyadari bahwa perlu ada premajaan pemain.

Dimulai dari anak-anaknya kemudian berkembang di lingkungan mereka. Karena ia menyediakan rumahnya sebagai tempat berlatih maka saat ini sudah mampu menampung 100an lebih peserta.

Mereka dating dari berbagai kalangan dan berbagai sekolah. Stella yang akrab dipanggil Mami oleh para anak didiknya menjadwalkan Latihan pada setiap hari Jumat dan Sabtu serta hari Minggu tentative. Dalam pelatihannya mereka dibagi kelompok pemula, menengah dan mahir. Stella sendiri mengajar untuk kelas mini bridge sedangkan untuk kelas menengah diajar oleh anaknya dan beberapa pemain yang sudah lama berkecimpung di bridge.

Untuk kelas mahir mereka mengajak pelatih dari Jogja seperti Karebet, Agung dan Zaenal. Guru besarnya adalah Karebet lanjut Stella.

Salah satu yang berkesan buat Stella ketika Denny Sacul dating melatih kerumahnya. Rupanya Denny tertarik ketika menonton permainan anak-anak dari Gunung Kidul, ia melihat permainan mereka sudah cukup baik tapi saying sekali pemahaman tentang sistim yang digunakan masih terlalu kuno.

Berkat usaha keras Stella yang selalu mengatakan agar sportivitas yang harus diutamakan sekarang mereka mulai menikmati hasilnya.

  1. Dukungan dari sekolah ju
    Kenyataan cukup mengejutkan, kecuali Semarang tidak ada Ibukota Propinsi yang lolos ke babak semi final Kejurnas Bridge Onlinle untuk kategori SD/SMP dan SMA.
    Pada kategori SD, SD Purwekerto akan bertarung dengan SD Logandeng GK memainkan 3 segmen. SD Purwekerto yang peringkatnya lebih tinggi mendapat carry-0ver 6 imp.
    Dimeja lain berhadapan SD Kanisius WNO2 GK dan SD Tasikmalaya dimana SD Tasikmalaya mendapat carry over 2 imp.
    Hasil ini menunjukan ada kemajuan besar dalam pembinaan bridge terutama program Bridge Masuk Sekolah di Jawa Tengah. Sayang sekali Sulut dan Jatim yang selama ini banyak menghasilkan atlet bridge kelompok SD seperti melempem.
    Tasikmalaya cukup konsisten memasalkan program Bridge Masuk Sekolah.
    Di kategori SMP, SMP Negeri Kalawat Minut akan berhadapan dengan SMP Karimun setelah mengalahkan SMPN1 Kediri dan SMPN 12 Surabaya.
    Di meja lain bertarung SMPN 1 Manado akan bertanding melawan SMP Neg 1 Wno GK A yang mengalahkan SMP Susteran Purwekerto dan SMP Neg 1 Wno GK B.
    Di kategori SMA, SMAN1 Boja akan berhadapan dengan SMA Negeri 1 WNO GK yang masing-masing mengalahkan SMK Neg, 1 Tondano dan SMAN 10 Malang.
    Di meja lain SMAN 3 Semarang akan bertarung melawan Kota Blitar setelah mengalahkan SMA Kabupaten Pasuruan dan SMAN1 Kediri.
    Para pemenang partai semi final akan bertarung di babak final untuk mencari juara sedangkan yang kalah akan berebut peringkat 3.
    Dari hasil diatas dominasi Jawa Timur sepertinya akan digeser oleh Jawa Tengah yang telah cukup menyebar di beberapa kota.
    Salah satu yang sangat menonjol adalah prestasi yang diraih Gunung Kidul salah satu Kabupaten di DIY.
    Mereka mampu meloloskan tim ke semi final di semua kategori bahkan di kategori SD ada dua tim.
    Ternyata ada kisah menarik sehingga bridge bisa berkembang di Gunung Kidul. Ini tidak lepas dari peran Ketua Gabungan Bridge Gunung Kidul Stella Nova Natalia, MM.Pd.
    Ia yang menggantikan peran mertuanya sebagai sesepuh bridge Gunung Kidul menyadari bahwa perlu ada premajaan pemain.
    Dimulai dari anak-anaknya kemudian berkembang di lingkungan mereka. Karena ia menyediakan rumahnya sebagai tempat berlatih maka saat ini sudah mampu menampung 100an lebih peserta.
    Mereka dating dari berbagai kalangan dan berbagai sekolah. Stella yang akrab dipanggil Mami oleh para anak didiknya menjadwalkan Latihan pada setiap hari Jumat dan Sabtu serta hari Minggu tentative. Dalam pelatihannya mereka dibagi kelompok pemula, menengah dan mahir. Stella sendiri mengajar untuk kelas mini bridge sedangkan untuk kelas menengah diajar oleh anaknya dan beberapa pemain yang sudah lama berkecimpung di bridge.
    Untuk kelas mahir mereka mengajak pelatih dari Jogja seperti Karebet, Agung dan Zaenal. Guru besarnya adalah Karebet lanjut Stella.
    Salah satu yang berkesan buat Stella ketika Denny Sacul datang melatih kerumahnya. Rupanya Denny tertarik ketika menonton permainan anak-anak dari Gunung Kidul, ia melihat permainan mereka sudah cukup baik tapi saying sekali pemahaman tentang sistim yang digunakan masih terlalu kuno.
    Berkat usaha keras Stella yang selalu mengatakan agar sportivitas yang harus diutamakan sekarang mereka mulai menikmati hasilnya.
    Dukungan dari sekolah juga positif terutama ketika sekolah bersedia meminjamkan komputer dan meja sekolah untuk digunakan. Agar koneksi internet terjamin maka saat bertanding Stella mengumpulkan para pemain dirumahnya yang wifi nya sudah teruji. Sebab sebelum pertandingan telah dicoba masing-masing pemain bermain dirumahnya ternyata koneksi internetnya tidak bagus. TOR-08

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here