Materi Kampanye & Debat Capres-Cawapres Kok Tidak Menyentuh Olahraga?

0
28

Oleh: Irawati Moerid

Prihatin bercampur kecewa itulah perasaan yang menggelayuti hari dan pikiran saya karena materi kampanye dan debat Capres-cawapres kok tidak menyentuh olahraga.

Sejak kampanye pilpres dibuka 28 Nopember 2023 lalu tidak ada satupun dari pasangan Capres Cawapres membahas atau mengangkat isu olahraga.

Apakah olahraga di Indonesia ini bukan hal penting dalam pembangunan nasional atau para elit politiknya memposisikan olahraga sebagai beban negara?

Padahal olahraga memiliki manfaat yang multi dimensi, bukan hanya sekedar melahirkan atlet berprestasi dunia juga menjadi alat diplomasi, promosi serta peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Bahkan kemerdekaan Indonesia sejujurnya tidak bisa lepas dari peran serta pejuang yang kebetulan punya semangat olahraga.

Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama tahun 1948 di Surakarta, tiga tahun setelah Kemerdekaan RI adalah salah satu bukti nyata untuk membuka mata dunia bahwa Indonesia secara negara resmi menjadi bagian dari dunia internasional.

Bahkan ada beberapa cabang olahraga (cabor) lahir jauh sebelum Indonesia merdeka yakni sepakbola (PSSI) pada tahun 1930 dan tidak sedikit pula ada cabor didirikan hanya beberapa tahun

Indonesia merdeka diantaranya Percasi/ Catur (1950), PASI/Atletik (1956) dan PBSI/Bulutangkis?
(1954).

Dari tujuh Presiden Indonesia, Saya hanya melihat Bung Karno dan Pak Harto (Suharto) yang punya perhatian kepada olahraga.

Dengan dalih membangun karakter manusia Indonesia seutuhnya, olahraga oleh Bung Karno dijadikan sebagai salah satu alat diplomasi dan pemersatu bangsa.

Dari sisi diplomasi, Bung Karno menilai olahraga juga merupakan senjata strategis mempersatukan bangsa maka lahirlah PON pertama tahun 1948 di Surakarta atau Solo.

PON pertama oleh Bung Karno semacam kekuatan politik menunjukkan kepada dunia Internasional bahwa Indonesia secara negara resmi menjadi bagian dari dunia sehingga diterima sebagai anggota Persatuan Bangsa-bangsa (PBB).

Tak lama berselang, Indonesia ikut pertama kali Asian Games tahun 1951 di New Delhi India dan Olimpiade tahun 1952 di Helsinki.

Bung Karno pula memberanikan diri mengajukan Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games IV tahun 1962 dan berhasil meraih dua sukses yakni sebagai penyelenggara dan prestasi.

Baru pada era Presiden Jokowi, Indonesia kembali menjadi tuan rumah Asian Games ke-18 pada tahun 2018.

Prinsipnya bagi Bung Karno esensi olahraga tak hanya bicara prestasi juga peningkatan sumber daya manusia (SDM).

Pada era Presiden Suharto, perkembangan olahraga Indonesia juga menggeliat dan mulai tertata dengan baik, baik organisasinya maupun pembinaannya.

Didukung seorang Menpora Abdul Gafur yang terkenal piawai membakar semangat generasi muda, Presiden Suharto pada tahun 1983 mencetuskan Hari Olahraga Nasional (Haornas) uji pula dengan fasilitas olahraga yang memadai.

Dan di era Presiden Suharto lah atlet dan pelaku olahraga sudah mulai mendapatkan penghargaan baik materi maupun kesempatan menaikkan strata pendidikan akademik.

Untuk membangkitkan semangat kegairahan berolahraga pada masyarakat pedesaan, Presiden Suharto melalui Kemenpora memberikan penghargaan khusus kepada Provinsi,Kabupaten dan Kota yang mampu membangun sarana dan prasarana olahraga dengan standar nasional.

Bentuk penghargaan itu diberikan pada saat Haornas 9 September yang diberi nama Parasamnya Purnakarya Nugraha Bidang Pembangunan Olahraga.

Sudah pasti penghargaan tersebut bukan hanya membanggakan sang Gubernur, Bupati dan Walikota tetapi masyarakatnya juga.
Beda 360 derajat dengan kondisi terkini, tidak sedikit fasilitas olahraga bukan hanya di daerah karena di pusat pun (Jakarta) berubah fungsi.

Contoh paling anyar di Jakarta kompleks olahraga pula seperti lapangan tenis di Gelora Bung Karno (GBK) Senayan dibongkar.

Padahal nilai sejarah lapangan itu luar biasa. Begitu juga halnya di Kemayoran, bukan nambah atau pertahankan fasilitas yang ada malah membuang demi kepentingan kelompok yang memang kurang suka dengan olahraga. Olahraga masih dianggap kegiatan yang kurang menguntungkan dari sisi bisnis.

Kita memang sudah punya Undang-undang Sistem Keolahragaan Nasional (UU SKN) nomor 3 tahun 2005 yang lahir pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meski isinya terkesan tumpang tindih karena tidak dilandasi kajian yang lebih mendalam dan strategis.

Jika para pengelola negeri ini masih memposisikan olahraga sebagai beban negara maka dipastikan bukan hanya prestasi yang mengalami kemerosotan, upaya menjadikan generasi muda yang berkarakter kuat dan berkualitas tinggi dalam persaingan apa saja dengan dunia luar hanya mimpi belaka.

Mumpung kesempatan kampanye dan debat Capres-cawapres masih sebulan lebih lagi, mohon sisipkan segmen khusus untuk bahas olahraga. Bravo olahraga Indonesia, bagi saya siapa pun Presidennya, olahraga Indonesia maju prestasinya. Salam Olahraga, Jaya, Jaya, Jaya (Penulis adalah mantan petenis nasional yang menjadi penentu kemenangan tim Indonesia merebut medali emas di SEA Games 1991 Manila Filipina, kini mendirikan Irawati Moerid Tennis Competition I(MT) sebagai penggerak Kejurnas Tenis Yunior Kelompok Umur).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here