SEJARAH KEJURNAS ANTAR PROPINSI & ANTAR GABUNGAN, TAHUN INI DIMANA?

0
14

Oleh : Bert Toar Polii

Kejuaraan Antar Propinsi adalah salah satu nomor paling bergengsi di Kejurnas Bridge selain nomor Antar Kabupaten/Kota atau yang lebih dikenal sebagai Antar Gabungan.

Awalnya kedua kejuaraan ini dilaksanakan terpisah, Antar Gabungan pada tahun ganjil dan Antar Propinsi pada tahun genap sehingga penyelenggaraannya menjadi dua tahun sekali. Antar kota dimulai pada tahun 1965 di Jakarta dengan memperebutkan Scorpio Bowl.

Nama piala diambil dari nama perusahaan otomotif Scorpio motors dimana pemiliknya Alex Frans Logyantara yang menjadi pencetus event ini.
Tahun 1972 justru diganti menjadi Antar Gabungan dan Piala diganti menjadi Piala Presiden Soeharto mulai tahun 1969.

Pada mulanya, setiap regu terdiri dari kombinasi tiga tim empat-kawan dengan jumlah pemain minimum 12 orang dan maksimum 18 orang. Oleh karena jumlah peserta makin bertambah banyak, mulai tahun 1974 peserta dibagi dalam dua klasemen. Klasemen A terdiri dari delapan Gabungan terbaik hasil Kejurnas sebelumnya, dan sisanya di klasemen B. Tahun 1975, Sidang Pengda yang berlangsung di Banjarmasin, menambah jumlah peserta Klasemen A menjadi 10 Gabungan. Kemudian berdasarkan keputusan Kongres GABSI tahun 1980 di Baleendah, Bandung, sejak tahun 1982 setiap Tim Antar Gabungan terdiri dari kombinasi 2 tim empat-kawan, dan jumlah peserta klasemen A menjadi 16 Gabungan.

Kongres GABSI 2010 di Batam kemudian merubah menjadi hanya satu pat-kawan. Namun tetap mempertahankan sistim pertandingan dua pat-kawan tapi hanya untuk Antar Propinsi.

Kejuaraan Antar Propinsi sendiri baru dimulai tahun 1995 di Kuta Bali dengan satu pat-kawan dan baru berubah jadi dua Patkawan tahun 2012 di Jakarta.
Setelah mempelajari perkembangan bridge sejak berkecimpung di olahraga ini tahun 1971 maka pada Kejurnas Bridge Lubuk Linggau 2016 saya menulis ide untuk menggabungkan kedua nomor pertandingan besar ini dalam satu event dan bisa terlaksana setahun sekali sehingga runtinitas pembinaan terjaga. Selain itu ada subsidi silang antara Propinsi dan Kabupaten/Kota. Gayung bersambut,

Mukernas GABSI Lubuk Linggau meminta PB Gabsi mempelajari ide ini. Setelah dicermati, ide ini menarik dan mungkin dikerjakan apalagi tuan rumah Surabaya siap melaksanakan maka akhirnya ide ini terwujud. Tahun 2017 di Sidoardjo dan 2018 kedua event Antar Propinsi dan Gabungan digabung.

Tahun 2019 di Jakarta kembali hanya mempertandingkan Kejurnas Antar Propinsi karena dikaitkan dengan PRA-PON 2020 di Papua. Selanjutnya tidak ada Kejurnas Bridge karena pandemic covid-19 dan baru tahun 2023 diadakan Kejurnas Bridge lagi dan kembali hanya dipertandingkan nomor Antar Propinsi karena juga dikaitkan dengan PRA-PON Sumut-Aceh 2024.

Tahun 2022 di Kejurnas Bridge Solo dipertandingkan nomor Antar Gabungan. Berkaca dari dua Kejurnas Bridge terakhir seharusnya tahun ini Kejurnas Bridge Antar Gabungan atau kembali di gabung seperti tahun 2017 dan 2018.

Mari kita tunggu, tapi sepertinya kondisi PB Gabsi saat ini sulit untuk menggelar event Kejurnas Bridge plus Mukernas Gabsi karena PB Gabsi masa bakti 2022-2026 sepertinya sedang mati suri karena sampai saat ini tidak terdengar ada kegiatan. Semoga situasi ini bisa segera diatasi sehingga program PB Gabsi yang cukup padat di tahun 2024 bisa berjalan dengan lancer.

Di tahun 2024 ada beberapa kegiatan penting yang wajib diikuti, yaitu :
APBF Congress di Bangkok Thailand pada 19-27 Mei 2024
Kejurnas Bridge & Indonesia Open
Kejurnas Bridge Antar Pelajar dan Mahasiswa
Mukernas Gabsi

Asean University Games (AUG) di Surabaya & Malang pada 25 Juni – 6 Juli
PON Sumut-Aceh 2024 di ACEH pada 8-20 September 2024
The 7th SEABF & The 40th ABCC Championship 28 September – 2 Oktober (tentative)
Kejuaraan Dunia Bridge, Buenos Aries pada 19 Oktober – 3 Nopember 2024

Selama ini baik Antar Propinsi maupun Antar Kabupaten/Kota hanya merupakan pertarungan dua Propinsi, Sulawesi Utara dan DKI Jakarta serta Manado atau Gabmo dengan Jakarta Pusat atau Jakpus.

Namun akhir-akhir ini mulai muncul persaingan dari daerah lain, seperti Jateng dan Jatim atau Semarang dan Surabaya.

Memang saat ini dengan bertambahnya jumlah Propinsi apalagi Kabupaten/Kota perlu didesign ulang menyesuaikan dengan kondisi yang ada.

Apalagi saat ini Porkot dan Porprov dibanyak kota dan provinsi telah mempertandingkan cabor bridge.

Mungkin bisa dibuat Kejurnas sebagai kesinambungan Porkot dan Porprov dimana para juara Porkot dan Porprov grand finalnya di Kejurnas.(Penulis adalah pemain bridge nasional)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here