THE FORCING PASS

    0
    17

    Oleh : Bert Toar Polii

    Salah satu senjata ampuh dalam competitive bidding adalah penggunaan konvensi yang dinamakan The Forcing Pass. Sebagian besar tulisan dibawah ini diambil dari Forcing Pass in Contract Bridge (1983) by Eddie Kantar kemudian diberi masukan oleh Eric Kokish saat melatih Timnas bridge Indonesia beberapa tahun yang lalu.
    Sekedar gambaran tentang kapan berlakunya The Forcing Pass atau pass yang bersifat forcing adalah :

    (1) Penawaran dalam keadaan game-forcing atau berarti partnership sudah sepakat untuk bid game dengan pegangan mereka. Contoh : 2/1 game forcing seperti yang umum digunakan saat ini.

    (2) Penawaran invitasional sudah disetujui untuk bid game.

    (3) Penawaran saat itu masih forcing sampai level tertentu yang belum dicapai. Contoh: 2/1 bid forcing sampai level 3 dari warna tersebut. Contoh : 1D – 2C forcing sampai 3C dan lawan overcall dibawah 3C

    (4) Pihak anda melakukan opening bid di level-2 = strong (kecuali 2NT, karena pointnya terbatas dan tidak forcing). Contoh : Pembukaan 2C Standart.

    (5) Pihak anda (sudah) bid game setelah lawan melakukan overcall PRE ataupun opening PRE.

    Kecuali : (a) lawan buka PRE di level game, direct-overcall hanya forcing bila VUL vs NONVUL, misalnya : (4H)-4S-(5H)-Pass…. NF kecuali V vs NV

    (b) setelah opening bid, lawan PRE jump overcall memaksa responder untuk bid game di warna lain, misalnya : 1D-(3S)-4H-(4S)-Pass… NF kecuali V vs NV

    (c) setelah opening 1H atau 1S, lawan PRE jump overcall, responder jump ke game dan tidak melakukan CUE

    (6) Dari jalannya penawaran: Bila lawan anda tadinya hanya ingin bermain di part-score dan akhirnya mereka bid game, setelah pihak kita bid game.

    Jika Pass = forcing, hanya ada dua kemungkinan, yaitu anda yang bermain atau lawan bermain pada kontrak yang di double.

    Forcing pass pada level tinggi menunjukkan adanya keragu-raguan, double berarti penalty, menawar “sekali lagi” berarti pegang distribusi yang istimewa, dan jika setelah pass lalu “bid lagi” setelah partner double, menunjukkan ada kemungkinan slam.

    Pegangan yang tidak ada harapan harus melakukan double dalam situasi forcing pass (FP) untuk memperingatkan partner untuk tidak bid lagi.

    Bila kedua lawan sudah pernah pass dan mencapai game setelah kita sudah bid game, maka FP selalu berlaku.

    Bila tangan ke-tiga open PRE 3C, 3D, 4C, atau 4D, tangan keempat double, dan responder raise ke game, maka FP berlaku KECUALI lawan VUL dan anda tidak misalnya : Pass-Pass-(3D)-DBL
    (5D)-Pass = forcing

    SETELAH SINGLE RAISE

    Opener dapat menciptakan situasi FP setelah partner melakukan single raise, dengan cara :

    (1) Bid warna baru pada level-3, dan responder menerima game-try tersebut. Bila responder menolak tetapi opener tetap bid game, maka FP berlaku.

    Jika pada kondisi diatas lawan bid game LEBIH DAHULU, maka FP tidak berlaku sebab kita belum tahu apakah kita ada game atau tidak, karena mungkin saja responder menolak game-try tsb.
    Pada kasus ini, DBL oleh opener menunjukkan bahwa kita ada game dan responder boleh pass atau bid lagi.

    Contoh : 1H – Pass – 2H – 2S
    3C – 3S – 4H – 4S
    FP berlaku

    1H – Pass – 2H – 2S
    3C – 4S FP tidak berlaku

    DBL oleh responder merupakan hal yang lebih rumit. Jika kita memberlakukan kasus ini sebagai situasi NF yang normal, maka DBL dari responder termasuk kategori TRANSFERABLE VALUES, dengan kata lain SETUJU game-try tsb, jadi pegang poin diluar warna lawan. Ide ini tentunya berlaku dan dapat digunakan.

    Bisa saja terjadi ada yang berpikiran lain, seperti :: Opener telah menunjukkan suit kedua. Point responder semuanya ada pada UNBID SUIT dan SUIT LAWAN. Lawan telah melakukan kesalahan. Mengapa kita tidak memberi hukuman dengan DBL sebagai PENALTY ?
    Ini pemikiran bagus tapi aturannya akan menjadi rumit untuk dihafal.

    Agar tidak lupa sebaiknya gunakan anjuran Eric Kokish : Pergunakan selalu aturan yang sama, perlakukan disini PASS=NF maka DBL=TRANSVERABLE VALUES. Jadi skenarionya tidak berubah karena anda masih bisa melakukan PEN jika opener melakukan DBL untuk menyatakan bahwa ia setuju bid game. Jadi sebagai IKHTISAR : jika pihak anda sebenarnya BELUM menerima invitasi ke game setelah suatu game try di level tiga, DBL oleh salah satu pemain bukan PEN. Ini hanya menunjukkan pegang nilai extra, dan biasanya tanpa pegangan kuat di suit lawan.

    (2) Menawar 3NT setelah 1M-2M. Anda bisa pegang second suit dan interest ke slam atau tipe 6331 dimana terlalu banyak ruang yang dipakai bila mau cue-bid di warna lawan.

    Responder harus DBL bila pegangannya sangat jelek dan PASS bila agak lumayan, perlu diingat bahwa bantuan trick di warna trump TIDAK DIBUTUHKAN LAGI.

    (3) Penawaran cue-bid di warna lawan menunjukkan PENDEK.

    (4) Melompat ke game setelah partner raise (e.g. 1M-2M;4M) kebanyakan tidak butuh “action” lanjutan dari partner, dan ada kemungkinan untuk mendorong lawan melakukan PHANTOM SACRIFICE. Dengan demikian ia tidak lagi berharap TRANSFERABLE VALUES DOUBLE dari partner dan sudah merencanakan untuk bid PASS/PENALTY DOUBLE/BID KEMBALI DI SUIT-NYA. Satu-satunya yang dapat dilakukan oleh partner adalah DOUBLE PENALTY, apabila ia yakin bahwa kontrak lawan akan gugur. Ini berarti situasi seperti ini merupakan KASUS SPESIAL dimana aturan-aturan NFP yang normal TIDAK digunakan. CATATAN : tangan yang melompat ke game setelah partnernya memberikan single-raise adalah yang menjadi KAPTEN, dan partnernya hanya boleh pass atau penalty double.

    (5) Menawar warna baru di level-4 berarti butuh eksplorasi lebih lanjut.

    Misalnya : 1H-(1S)-2H-(2S); 4m … F, konsentrasi di 2 warna (55+). Hal ini memberi alasan bahwa bila lawan dapat menyelesaikan kontraknya di ranking yg lebih tinggi, dari tangan opener dapat melakukan penawaran lebih lanjut, atau jika kontrak lawan memang gugur, kita harus mendobelnya.

    Tetapi : 1S-(2H)-2S-(3H);4m … merupakan penawaran yang TIDAK JUMP. Mungkin hal ini membuat sedikit perbedaan, yaitu opener mungkin bisa saja langsung bid game di warna pertama, tetapi ia ingin memberi tahu partner bahwa ia punya second-suit.

    Tentu saja kita sekarang sudah harus bid game jika lawan tidak menawar lagi (dan itu adalah kasus dimana kita harus menggunakan forcing pass.

    SETELAH RESPON LIMIT RAISE

    (1) Situasi forcing pass berdasarkan MATEMATIKA BRIDGE, yaitu situasi dimana SALAH SATU TANGAN TELAH SETUJU TERHADAP GAME INVITATION, yang mana bid game tersebut tentunya berdasarkan jumlah HCP dan DISTRIBUSI POINT yang lebih banyak atau paling tidak sama dengan lawan. Jadi, jika kita berencana untuk menyelesaikan kontrak, mengapa membiarkan lawan kontrak tanpa di double. Tentunya lebih baik kita menDOBEL kontrak lawan atau BID SEKALI LAGI (tergantung mana yang lebih menguntungkan).

    (2) Setelah limit raise, opener dapat membuat situasi FP dengan cara melakukan Cue Bid, Bid Warna Baru, atau bid 3NT. WARNA BARU membantu partner mengambil keputusan terhadap bid lawan, yaitu melakukan Dobel Penalty, Bid Lagi di Salah Satu Warna Opener, atau melakukan Forcing Pass. Bila responder bid warna baru lainnya maka dalam hal ini dapat mengubah situasi menjadi slam try, terutama jika opener selanjutnya bid yang bersifat strong, yang jelas pada saat itu hanya bersifat MEMBANTU PARTNER DALAM MELAKUKAN BID. Untuk 3NT dan SHORTAGE CUE-BID sudah jelas merupakan slam try.

    (3) Forcing pass dapat dibuat oleh kedua-dua pemain jika lawan melakukan kompetitif bid pada level-5. Aturan ini tetap berlaku meskipun tidak ada petunjuk yang memberi kesan bahwa opener telah melakukan psyche (misalnya lawan VUL bid pada level-5 SEDANGKAN kita NOT VUL dan tidak ada persetujuan terhadap game invitation).

    RAISE LANGSUNG DARI SATU KE EMPAT (1M-4M)

    Opener dapat membuat situasi FP setelah partner bid PREemptive game raise hanya dengan cara menawar WARNA BARU atau melakukan CUE-BID.

    Contoh : . (a) 1H-Pass-4H-4S
    Pass Non-forcing
    DBL Transferable values
    5H No forcing passes
    5m Forcing passes follow

    (b) 1H-2S-4H-4S
    Pass Non-forcing, because there was no cue-bid
    DBL Transferable values
    5H No forcing passes follow
    5m Forcing passes follow
    Atau dengan kata lain Forcing Pass tidak berlaku di sekuense ini.

    SETELAH RESPON ONE OVER ONE

    (1) Opener invites game dan responder setuju. Forcing pass berlaku.

    (2) Responder invites game dan opener setuju. Forcing pass berlaku.

    (3) Opener invites game dan responder tidak setuju. Tidak ada FP.

    (4) Responder invites game dan opener Tidak setuju. Tidak ada FP.

    (5) Cue-bid oleh opener menciptakan situasi forcing pass.

    (6) Opener raises ke game atau jump raises ke game setelah weak jump overcall. Forcing passes hanya berlaku pada tangan opener. Vulnerability tidak menjadi masalah; yang penting adalah SPESIFIKASI RAISE KE GAME tsb; jika raise tsb berdasarkan HCP, maka pass adalah forcing; sedangkan jika raise tsb berdasarkan distribusi dengan point yang sangat terbatas, maka tidak ada alasan untuk memberlakukan pass OLEH TANGAN TERSEBUT sebagai forcing.

    (7) Opener melakukan single raise dan responder bid game. Hal ini sama dengan kasus 1H-(1S)-2H-(2S);4H. Jadi merupakan variasi dari KASUS SPESIAL. Tidak ada FP.

    (8) Opener dengan tiba-tiba bid game tanpa melihat ada fit atau tidak, maka subsequent pass dari tangan manapun adalah FP.

    (9) Jika baik lawan maupun kita ada fit, dan sama-sama bid game, dan tidak ada yang bid weak jump overcall, tidak ada take-out, responsive ataupun negatif double, maka FP berlaku jika :

    (a) VUL vs NONVUL, Pass= NF, DBL= TRANFERABLE VALUE
    (b) Opener melompat dari level-1 ke level-4 di warna partner yang menunjukkan pegangan strong balance;
    (c) Dari jalannya bidding terlihat bahwa mereka melakukan sacrifice;
    (d) Sudah jelas bahwa kita punya high-card yang lebih banyak dari lawan.

    SETELAH RESPON TWO-OVER-ONE

    Jika respon 2/1 adalah FG, pass dari sembarang tangan adalah FP sampai anda bid game atau mendobel lawan.

    Jika anda bermain dengan respon 2/1 standard (10+) maka:

    (1) FP pada level-2 kecuali :
    (a) opener sudah rebid warnanya sendiri (NF)
    (b) responder sudah men-support pada level-2 yg NF

    (2) Respon 2/1 membuat FP pada level-3 kecuali opener sudah rebid warnanya sendiri atau bid NF raise terhadap warna responder.

    (3) Respon 2/1 membuat FP pada level-3 kecuali responder telah menunjukkan batasan pegangannya dengan cara :
    (a) bid simple preference (NF support) terhadap suit partner
    (b) NF raise terhadap second suit partner
    (c) rebid NF 2NT
    (d) rebid warnanya semula

    CATATAN : Prinsip-prinsip diatas juga berlaku dalam COMPETITIVE 2/1 RESPONSES 1H-(1S)-2C, dalam kasus ini, apabila sekali “safety level” dilewati, maka DOUBLE dari sembarang tangan menunjukkan extra point (FG). Raise di warna minor oleh opener dalam competitive 2/1 adalah NF.

    Dengan pegangan yg lebih baik, opener bisa pass pada level di bawah 3m, tetapi harus melakukan “action” jika telah lewat dari “safety level” … contohnya : 1H-(1S)-2C-(1S)-2C-(3S); Pass ataupun 4C = NF. Untuk Forcing, opener harus bid Double, atau Cue-bid atau Jump Raise atau Bid Warna Baru ataupun rebid Warna Sendiri.

    NB : Jika kompetitif 2/1-nya adalah 2H atau 2S, raisenya adalah FORCING. Dianggap bahwa jika responder ada fit di Major-nya, ia akan ke game. Tidak begitu bila suit tsb minor, karena untuk memperoleh 11 tricks kelihatannya akan sangat sukar. Ingat bahwa simple raise di warna minor dalam kompetitif bid hanya menunjukkan ada trump support.

    FORCING BIDS DI LEVEL TIGA

    Responder melakukan respon 2/1 dan tangan ke-empat melakukan kompetitif bid di level-3.

    (1) Pass oleh opener = FP jika warna lawan tsb rankingnya lebih rendah dari warna responder.

    (2) Jika responder harus melakukan respon pada level-3 atau 4 (respon terhadap level-2), FP berlaku.
    Tetapi jika responder telah menunjukkan pegangan weak, melalui jump ke level-3, tidak ada FP.

    REMOVING PARTNER’S DOUBLE

    Setelah ada fit atau salah satu tangan telah menunjukkan punya single-suit yang kuat, pass dahulu kemudian bid berarti pointnya lebihg bagus daripada langsung bid (slam potensial). Bidding selanjutnya adalah kuantitatif.

    Sebelum fit ditunjukkan, FP memberi indikasi adanya partial-fit tetapi menunggu rebid partner selanjutnya.

    Pengecualian : Anda open 1M, partner respon 2m dan RHO bid pada level-4. Pass = forcing, agar responder dapat menunjukkan adanya support di warna opener. Bila responder double dan kemudian opener melakukan support di warna responder, berarti tidak ada extra point. Pass oleh opener setelah lawan melakukan intervensi berarti toleran terhadap warna responder.

    THE REDOUBLE

    WEST NORTH EAST SOUTH
    1H DBL RDBL

    (1) Jika South bid, dan West serta North pass, East harus bereaksi. Pass oleh West = Forcing. Pada contoh ini, double pada level dibawah 3H, oleh tangan yang mana saja, berarti COOPERATIVE TAKEOUT.

    (2) Jika South bid dan West melakukan bid yang menunjukkan pegangan weak (bid yang tidak jump), forcing sampai di level-2.

    (3) Jika East melakukan non-forcing bid pada kesempatan berikutnya, berarti tidak ada FP.

    (4) Jika bid berikutnya dilakukan oleh yang men-double (North), sedangkan East tidak bid single-raise, FP berlaku sampai di level-3 warna lawan.

    (5) Jika opener jump pada kesempatan kedua (setelah partner meredouble), maka FP berlaku.

    MELAWAN BIDDING YANG ARTIFICIAL

    (1) Setelah unusual 2NT overcall di double, maka lawan tidak dapat bermain baik di level-3 maupun di level-5 tanpa di DOUBLE.

    Mereka dapat bermain tanpa di-double hanya pada level-4. (tergantung dari apa maksud dari Double terhadap 2NT ?; Menurut Eric Kokish: itu berarti GENERAL VALUES- tidak hanya dapat defense terhadap minor-suit.

    (2) Setelah Double atas Michaels Cuebid terhadap major, lawan tidak dapat bermain di level-2 atau 4 tanpa di double, kecuali di level-3. Jika responder pass, berarti forcing sampai di level-2.

    Jika opener rebid setelah partner double (pada situasi FP), maka berarti tidak ada FP. Tetapi dalam situasi NONFORCING, melakukan bid menunjukkan adanya kekuatan ekstra, sedangkan Double menunjukkan all-around values

    NOTRUMP OVERCALLS AND OPENING BIDS

    Setelah lawan overcall 1NT dan partner Double, FP berlaku sampai 2D

    THE TAKEOUT DOUBLE

    Jika responder cue-bid pada level-2 setelah kita TO Double, berarti Forcing sampai level-3 pada warna di atasnya. Contoh : (1H)-DBL-(Pass)-2H : forcing sampai 3S.

    Cue-bid di level-3 oleh responder berarti game-force.

    Jump (ataupun tidak jump) ke game setelah TO Double, berarti tidakl ada FP (kecuali melalui 3NT). Begitupun dengan non-forcing jump oleh responder (No FP).

    Jika yang melakukan TO Double bid warna baru kemudian melakukan non-forcing jump, maka FP berlaku. Setelah TO Double terjadi kompetitif bid dan partner pass, yang melakukan TO Double dapat membuat situasi FP melalui cue-bid atau jump ke game.

    Setelah TO Double, lalu yang melakukan TO men-double kembali bid lawan di-level 1 atau 2, yang berarti penalty, maka FP berlaku hanya sampai di level-2. Sedangkan bila double tsb dilakukan pada level-3, maka untuk selanjutnya FP berlaku terus.

    Setelah TO Double diikuti dengan responsive double, FP berlaku jika (1) yang melakukan TO Double bid game; (2) atau lawan bid di level-5 atau lebih tinggi lagi.

    THE NEGATIVE DOUBLE

    Negative Double terhadap bid 3S atau lebih tinggi, FP berlaku untuk opener. Untuk kasus ini, double oleh Opener tidak lagi Begative Double tetapi berharap untuk di-penalty. Double oleh Responder menunjukkan tidak ada point ekstra.(Penulis adalah pemain bridge nasional).

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Please enter your comment!
    Please enter your name here